Merawat hari ini untuk kelestarian esok
Hari ini saya akan mengulas sedikit kisah kunjunganku bersama anak
anak SMP Alam Duri di Hutan Bakau Dumai. Senin 4 Februari 2019, kami
pergi melakukan kunjungan dengan tujuan hutan bakau Dumai yang
perjalananya memerlukan waktu 1,5 jam dari sekolah kami.
Saat baru tiba di depan pintu masuk kami bertemu dengan seorang pria. Memakai kopiah, kaos berlengan pendek dan celana biru. Kulitnya cokelat dan jenggotnya putih. Dia mendekat seraya mengucapkan salam dan menjabat tangan.
Dia kemudian mengajak masuk menyusuri pelataran kayu dalam hutan bakau, lalu berhenti di pondok yang bertuliskan perpustakaan yang tak begitu jauh dari pintu masuk ke hutan. Di sini telah tersedia bahan bacaan, plakat kunjungan dan suasana yang nyaman untuk membaca.
Kami pun berkenalan dengan beliau, sebelum kami menelusuri hutan ini, di awali oleh sambutan dari pihak sekolah dan dilanjutkan perkenalan oleh sang pengelola hutan bakau dumai.
Beliau bernama pak Darwis Pendiri Pecinta Alam Bahari Bandar Bakau Dumai. Hutan bakau tempat kami bincang-bincang ini dikelola pak Darwis sejak 1998. Selain untuk menahan abrasi, hutan bakau juga di kenal sebagai simbol budaya masyarakat Dumai. Alhamdulillah beliau sudah mendapatkan SK kementrian pada tahun 2016.
Di masa orde baru, pak Darwis pernah mengitari Sungai Dumai menggunakan sampan. Kadang berenang. Ia mengajak pemuda sekitar tempat tinggalnya. Mereka kadang memancing di tengah sungai. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dua hal. Pertama melihat pohon bakau yang masih tersisa, kedua mencari tahu ketersediaan ikan dalam sungai.“Sering kami dapat sampah terutama sampah palstik dan ini akan mengganggu ekosistem sekitar bakau ujar beliau kepada kami.”
Perjuangan pak Darwis menjaga simbol budaya yang disebutnya sebagai marwah ini cukup panjang. Jika tidak karena ketekunannya, bakau di Kota Dumai sudah lama habis ditebang untuk memperluas pembangunan pelabuhan oleh Pelindo. beliau menolak pembangunan pelabuhan yang katanya untuk rakyat. Pembangunan pelabuhan ini akan menebang pohon bakau yang ada di sepanjang garis pantai Dumai. Perjuangan beliau juga memasang plang penolakan di pohon bakau.
Penuh dengan tantangan usaha beliau dalam menjaga kearifan lokal, bukan saja menghadapi perusahaan yang ingin memperluas area tapi juga ada orang segelintir yang memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan pribadi seperti barang ilegal. Kalau saja saya mau keluar dan tak peduli lagi dengan ini maka sudah dari dulu saya mendapat uang, yang saya lakukan ini bukan serta merta karena uang tapi karena saya cinta akan tanah air terutama masyrakat Dumai kelak jangan sampai susah melihat laut luas secara langsung karena sebagian besar garis pinggir laut dumai sudah dikelilingi oleh perusahaan yang tidak mungkin orang lain bisa masuk sekehendak hati.
Kembali beliau melanjutkan ceritanya, Siswa/i SMP Alam dengan khidmat menyimak apa yang disampaikan oleh pak Darwis, dan sesekali Siswa/i bertanya dengan pak darwis tentang ada berapa jenis bakau yang ada didumai saat ini dan bagaimana proses pembibitan serta penanaman bakau ini, dengan wajah yang penuh semangat dan ceria kembali melanjutkan ceritanya, serta penjelasan kepada siswa/i kami
.
Alhamdulillah, saya sampai saat ini bersama teman teman yang peduli akan keberadaan hutan bakau ini masih terus menjaga dan merawat sampai sekarang, bahkan yang datang pun sudah banyak baik yang menggali informasi dan lain sebagainya kami dampingi dengan baik. Karena cita cita saya kelak hutan ini akan terus terawat walaupun kami sudah tiada sebagai warisan kearifan lokal masyarakat dumai; ujar beliau kepada kami.
Beliau kemudia mengajak kami berjalan sembari menelusuri kawasan hutan bakau, ditengah perjalanan beliau melanjutkan kembali , di hutan bakau ini yang cukup berbahaya adalah ular bakau, ular bakau berukuran kecil dan aktif pada malam hari, tapi tak usah khawatir karena yang biasa lalu lalang jarang ada.
Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat kembali di pondok dekat tepian laut sembari menikmati semilirnya angin laut yang berhembus saat itu. Dan siswa/i kami pun ikut berkumpul dipondok tersebut sembari mengisi tugas woksheet yang diberikan oleh fasilitatornya.
Jelang zuhur, siswa/i kami pamit untuk istirahat keluar dari hutan dan sementara saya bersama fasilitator lain melanjutkan perbincangan kami dengan pak darwis. Ada alasan beliau yang mendorong beliau memperjuangkan keberadaan hutan ini, yakni budaya( kaitan legenda putri tujuh), sosial masyarakat, dan cinta tanah air serta yang lebih menguatkan adalah sosok sang istri yang setia menemani perjuangan beliau sampai mendapatkan SK akan pemberdayaan bakau.
Hari itu beliau sedikit menyinggung akan betapa tegarnya sang istri yang rela akn sebuah keputusan pak darwis yang berjuang walau tak ayal awalnya ada yang mengatakan kurang kerjaan dan sia sia, namun tetap diterima oleh sang istri, hingga pada 2016 dua minggu setelah SK tentang pengelolaan hutan bakau direstui sang mentri, istrinya meninggal dan beliau bercerita istrinya dengan senyum indah saat meninggalkan beliau dalam hati pak darwis istrinya sudah banyak berjuang dan mendorong untuk melihat sebuah kebenaran dengan mata hatinya bukan malah membuat tuli ketika keadaan lingkungan berubah tak baik, istrinya juga tak banyak menuntut untuk selalu hidup bahagia bersamanya karna pak darwis dulunya juga pernah bekerja di caltex keluar demi menjaga hutan tersebut dan mempertahankanya sampai saat ini.
Tanpa sadar, kami merasa terharu bahkan sampai menetes air mata karena penuturan pak darwis kepada kami akan pejuanganya, dalam hati ku orang sekarng banyak teriak teriak NKRI tapi sebatas slogan tanpa ada karya nyata. Dan mementingkan kepentingan pribadi semata, tapi masih ada kok yang berbuat lebih baik, karena hidup hanya sekali maka tuliskan lah sejarah kehidupan kita dengan hal yang baik dan memberikan manfaat untuk oranglain.
tenyata disini juga ada sekolah alam lho, namanya sekolah alam bandar bakau dumai, sekolah ini beda dengan sekolah alam duri, disini siswa/i nya hanya hari minggu kegiatanya mengembangkan bibit bakau. Dengan begini, cukup membantu memenuhi kebutuhan belajar mengajar di sekolah alam dan tidak perlu lagi mencari bibit di luar. Bahkan bibit bakau ini dijual ke berbagai instansi dan ke luar daerah. Hasil penjualannya juga diberikan pada anak-anak sekolah yang membantu.
Sejauh ini pak darwis terus memutar otak, bagaimana kelak di kawasan bandar bakau bisa dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai lapangan pekerjaan. “Kita ingin menciptakan kerajinan dan industri kreatif dari alam ini.”
dalam perjalananya beliau harus menerima cemoohan warga. Disebut gila namun tak langsung kepadany hanya ia dengar lewat cerita istrinya yang tegar dan selalu menemani beliau berjuang. Bahkan dia dianggap menghalangi warga untuk menebang bakau. Di awal sekolah alam berdiri pun tidak serta merta orangtua murid mengizinkan anaknya untuk masuk dalam kawasan bandar bakau. Alhamdulillah saat ini sudah ramai anak anak yang belajar disini, kita ajarkan bagaiman mencintai lingkungan dengan baik.
Tak terasa waktu terus bergulir dan rasanya kami cukupkan untuk saat ini dan kami kembali melanjutkan perjalanan kami untuk kembali ke duri. Alhamdulillah, kami mendapat undangan untuk ikut kembali pada bulan maret menanam pohon bakau.
salam
Arik Jatmiko
Saat baru tiba di depan pintu masuk kami bertemu dengan seorang pria. Memakai kopiah, kaos berlengan pendek dan celana biru. Kulitnya cokelat dan jenggotnya putih. Dia mendekat seraya mengucapkan salam dan menjabat tangan.
Dia kemudian mengajak masuk menyusuri pelataran kayu dalam hutan bakau, lalu berhenti di pondok yang bertuliskan perpustakaan yang tak begitu jauh dari pintu masuk ke hutan. Di sini telah tersedia bahan bacaan, plakat kunjungan dan suasana yang nyaman untuk membaca.
Kami pun berkenalan dengan beliau, sebelum kami menelusuri hutan ini, di awali oleh sambutan dari pihak sekolah dan dilanjutkan perkenalan oleh sang pengelola hutan bakau dumai.
Beliau bernama pak Darwis Pendiri Pecinta Alam Bahari Bandar Bakau Dumai. Hutan bakau tempat kami bincang-bincang ini dikelola pak Darwis sejak 1998. Selain untuk menahan abrasi, hutan bakau juga di kenal sebagai simbol budaya masyarakat Dumai. Alhamdulillah beliau sudah mendapatkan SK kementrian pada tahun 2016.
Di masa orde baru, pak Darwis pernah mengitari Sungai Dumai menggunakan sampan. Kadang berenang. Ia mengajak pemuda sekitar tempat tinggalnya. Mereka kadang memancing di tengah sungai. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dua hal. Pertama melihat pohon bakau yang masih tersisa, kedua mencari tahu ketersediaan ikan dalam sungai.“Sering kami dapat sampah terutama sampah palstik dan ini akan mengganggu ekosistem sekitar bakau ujar beliau kepada kami.”
Perjuangan pak Darwis menjaga simbol budaya yang disebutnya sebagai marwah ini cukup panjang. Jika tidak karena ketekunannya, bakau di Kota Dumai sudah lama habis ditebang untuk memperluas pembangunan pelabuhan oleh Pelindo. beliau menolak pembangunan pelabuhan yang katanya untuk rakyat. Pembangunan pelabuhan ini akan menebang pohon bakau yang ada di sepanjang garis pantai Dumai. Perjuangan beliau juga memasang plang penolakan di pohon bakau.
Penuh dengan tantangan usaha beliau dalam menjaga kearifan lokal, bukan saja menghadapi perusahaan yang ingin memperluas area tapi juga ada orang segelintir yang memanfaatkan keadaan itu untuk kepentingan pribadi seperti barang ilegal. Kalau saja saya mau keluar dan tak peduli lagi dengan ini maka sudah dari dulu saya mendapat uang, yang saya lakukan ini bukan serta merta karena uang tapi karena saya cinta akan tanah air terutama masyrakat Dumai kelak jangan sampai susah melihat laut luas secara langsung karena sebagian besar garis pinggir laut dumai sudah dikelilingi oleh perusahaan yang tidak mungkin orang lain bisa masuk sekehendak hati.
Kembali beliau melanjutkan ceritanya, Siswa/i SMP Alam dengan khidmat menyimak apa yang disampaikan oleh pak Darwis, dan sesekali Siswa/i bertanya dengan pak darwis tentang ada berapa jenis bakau yang ada didumai saat ini dan bagaimana proses pembibitan serta penanaman bakau ini, dengan wajah yang penuh semangat dan ceria kembali melanjutkan ceritanya, serta penjelasan kepada siswa/i kami
.
Alhamdulillah, saya sampai saat ini bersama teman teman yang peduli akan keberadaan hutan bakau ini masih terus menjaga dan merawat sampai sekarang, bahkan yang datang pun sudah banyak baik yang menggali informasi dan lain sebagainya kami dampingi dengan baik. Karena cita cita saya kelak hutan ini akan terus terawat walaupun kami sudah tiada sebagai warisan kearifan lokal masyarakat dumai; ujar beliau kepada kami.
Beliau kemudia mengajak kami berjalan sembari menelusuri kawasan hutan bakau, ditengah perjalanan beliau melanjutkan kembali , di hutan bakau ini yang cukup berbahaya adalah ular bakau, ular bakau berukuran kecil dan aktif pada malam hari, tapi tak usah khawatir karena yang biasa lalu lalang jarang ada.
Akhirnya kami memutuskan untuk istirahat kembali di pondok dekat tepian laut sembari menikmati semilirnya angin laut yang berhembus saat itu. Dan siswa/i kami pun ikut berkumpul dipondok tersebut sembari mengisi tugas woksheet yang diberikan oleh fasilitatornya.
Jelang zuhur, siswa/i kami pamit untuk istirahat keluar dari hutan dan sementara saya bersama fasilitator lain melanjutkan perbincangan kami dengan pak darwis. Ada alasan beliau yang mendorong beliau memperjuangkan keberadaan hutan ini, yakni budaya( kaitan legenda putri tujuh), sosial masyarakat, dan cinta tanah air serta yang lebih menguatkan adalah sosok sang istri yang setia menemani perjuangan beliau sampai mendapatkan SK akan pemberdayaan bakau.
Hari itu beliau sedikit menyinggung akan betapa tegarnya sang istri yang rela akn sebuah keputusan pak darwis yang berjuang walau tak ayal awalnya ada yang mengatakan kurang kerjaan dan sia sia, namun tetap diterima oleh sang istri, hingga pada 2016 dua minggu setelah SK tentang pengelolaan hutan bakau direstui sang mentri, istrinya meninggal dan beliau bercerita istrinya dengan senyum indah saat meninggalkan beliau dalam hati pak darwis istrinya sudah banyak berjuang dan mendorong untuk melihat sebuah kebenaran dengan mata hatinya bukan malah membuat tuli ketika keadaan lingkungan berubah tak baik, istrinya juga tak banyak menuntut untuk selalu hidup bahagia bersamanya karna pak darwis dulunya juga pernah bekerja di caltex keluar demi menjaga hutan tersebut dan mempertahankanya sampai saat ini.
Tanpa sadar, kami merasa terharu bahkan sampai menetes air mata karena penuturan pak darwis kepada kami akan pejuanganya, dalam hati ku orang sekarng banyak teriak teriak NKRI tapi sebatas slogan tanpa ada karya nyata. Dan mementingkan kepentingan pribadi semata, tapi masih ada kok yang berbuat lebih baik, karena hidup hanya sekali maka tuliskan lah sejarah kehidupan kita dengan hal yang baik dan memberikan manfaat untuk oranglain.
tenyata disini juga ada sekolah alam lho, namanya sekolah alam bandar bakau dumai, sekolah ini beda dengan sekolah alam duri, disini siswa/i nya hanya hari minggu kegiatanya mengembangkan bibit bakau. Dengan begini, cukup membantu memenuhi kebutuhan belajar mengajar di sekolah alam dan tidak perlu lagi mencari bibit di luar. Bahkan bibit bakau ini dijual ke berbagai instansi dan ke luar daerah. Hasil penjualannya juga diberikan pada anak-anak sekolah yang membantu.
Sejauh ini pak darwis terus memutar otak, bagaimana kelak di kawasan bandar bakau bisa dimanfaatkan masyarakat setempat sebagai lapangan pekerjaan. “Kita ingin menciptakan kerajinan dan industri kreatif dari alam ini.”
dalam perjalananya beliau harus menerima cemoohan warga. Disebut gila namun tak langsung kepadany hanya ia dengar lewat cerita istrinya yang tegar dan selalu menemani beliau berjuang. Bahkan dia dianggap menghalangi warga untuk menebang bakau. Di awal sekolah alam berdiri pun tidak serta merta orangtua murid mengizinkan anaknya untuk masuk dalam kawasan bandar bakau. Alhamdulillah saat ini sudah ramai anak anak yang belajar disini, kita ajarkan bagaiman mencintai lingkungan dengan baik.
Tak terasa waktu terus bergulir dan rasanya kami cukupkan untuk saat ini dan kami kembali melanjutkan perjalanan kami untuk kembali ke duri. Alhamdulillah, kami mendapat undangan untuk ikut kembali pada bulan maret menanam pohon bakau.
salam
Arik Jatmiko
Komentar
Posting Komentar